Hai hai haai, aku dateng dengan cerpen baru yang aku yakin 260% lebih bagus daripada cerpen sebelumnya. Tau kenapa? Karena di cerpen ini aku make gaya bahasanya si Meggin Cabot, penulis novel yang karyanya udah bejubel itu. Dan cerpen aku kali ini, terinspirasi dari si cowok keren yg matrek itu loh. Tau kan tau kan? Ha ha :D
Okedeh, gak perlu berlama-lama lagi. Ini dia cerpen baru akuh, check this out ;)
Well, bangun di pagi hari dan langsung mendapatkan berita bagus cukup bisa membuatku bersemangat untuk menjalani hari ini. Bukan berarti aku selalu tidak bersemangat di hari-hari sebelumnya, tetapi, aku hanya butuh sedikit penyegaran yang bisa-yah katakanlah-me-reload dan me-refresh otakku.
“Oh, Tuhan. Yang benar saja Kate, maksudku, cowok sekeren dia bisa naksir sama cewek nerd-yang suka ngurung diri di kamar dan membuat cerpen-kayak aku?” Sambil terus membersihkan kotoran-kotoran di sudut mata, aku menggenggam erat ponsel di tangan kiriku-syok.
“Yeah, mungkin memang sulit diterima akal. Tapi itulah kenyataan yang aku dengar Ms. Langston. Kau tidak berfikir aku tuli kan?” Sahabat baikku, Kathy Simon bertanya dengan nada sarkastis.
“Oh tentu tidak sayang…” Jawabku dengan suara dibuat-buat yang membuatnya menirukan suara orang yang sedang muntah. “Hanya saja, kau tahu, rasa-rasanya itu hampir tidak mungkin.” Aku melanjutkan dengan suara pelan, sangat pelan hingga hampir terdengar seperti gumaman.
“Okay, tidak ada gunanya kita terus-terusan berargumen sekarang. Kita harus cari kepastiannya sendiri.” Kate menekankan setiap katanya, kayak sedang bicara dengan orang tolol saja.
“Bagaimana caranya?” Aku bertanya, jelas-jelas tertarik.
“Tanya langsung pada orangnya…” Kate menyarankan, tetapi menurutku dia sedang bertanya. Entahlah, suaranya terdengar sedikit ragu dan aku pun tidak mau repot-repot memakai usulan bodoh seperti itu.
“Kau nggak gila kan? Bagaimana kalau ternyata dia tidak menyukaiku? Mungkin setelah itu aku hanya akan menghabiskan sisa hidup dengan merajut kain dan duduk di atas kursi goyang di teras rumahku!” Setelah mengucapkan kalimat itu, aku langsung terbayang bagaimana rupa wajahku saat sedang merajut dan duduk di kursi goyang, memakai baju nenekku, amit-amit. Sangat amit-amit.
“Oh aku tidak akan berani membayangkan hal itu!” Katanya pura-pura syok. “Tapi Sharona, aku benar-benar mendengarnya sendiri waktu itu.” Kate ngotot.
“Yeah, aku percaya padamu. Hanya saja, sekali lagi, itu hampir tidak mungkin.” Aku mendengar Kate hanya bergumam setuju di seberang telepon sana. “Well, mungkin kita tunggu saja apa tindakan dari cowok itu. Kalau memang ternyata gelagat-gelagatnya menunjukkan bahwa ia menyukaiku, baru kita akan membahasnya lagi. Deal?”
“Yeah, deal.” Sedetik kemudian terdengar bunyi ‘tuut’ yang panjang-yang berarti sambungan telepon sudah terputus. Tanganku terasa panas karena telah menggenggam benda canggih-yang mempunyai sesuatu yang disebut elektromagnetis atau semacamnya-cukup lama. Cukup lama hingga mampu membuat Mom berteriak kesal karena aku tak juga turun untuk sarapan.
YEAH
Sudah beberapa hari sejak perdebatan sengit antara aku dan Kate di telepon, namun belum ada sedikit pun tanda-tanda bahwa si cowok atletis, Dominic Bruce, menyukaiku.
Atau setidaknya begitulah menurutku.
Aku masih berfikir seperti itu hingga setidaknya 2 menit kemudian Mom memanggilku dari arah dimana telepon rumahku terpajang.
“Sharon, ada telepon untukmu.” Mom berteriak padaku sangat keras, seakan-akan aku mengalami gangguan pendengaran atau sebangsanya. “Dari seorang cowok.” Bisik Mom ketika aku sudah berada disebelahnya. Aku hanya mengernyit pura-pura bodoh dan meraih telepon berwarna hitam yang masih di pegangnya. Aku sudah akan mulai berbicara tapi Mom masih di hadapanku, ingin tahu.
“Mom…” Aku berkata dengan lembut namun tegas, mengisyaratkannya untuk segera pergi.
“Yah, baiklah.” Mom pergi sambil mengangkat kedua tangannya. Namun aku berani bertaruh dia tak benar-benar pergi, melainkan hanya akan berdiri menguping dibalik tembok itu. Setelah menghela nafas dan berdeham, aku berbicara dengan cowok di telepon itu.
“Yeah, Adam. Ada apa?” Aku langsung nyerocos dan merasa yakin bahwa orang yang menelponku adalah Adam McTavish, salah satu sahabatku yang paling baik dan tampan.
“Adam?” Cowok itu sedikit terkekeh dan melanjutkan kalimatnya. “Ini aku Dominic, Dominic Bruce. Kau kenal?” Dia bertanya padaku. Entahlah, aku merasa pertanyaannya melecehkanku. Karena sepertinya dia bukan bermaksud rendah diri-dengan menganggap dirinya tidak populer sehingga ada beberapa orang yang tidak mengenalnya-, melainkan menganggap bahwa aku tidak gaul sampai-sampai tidak mengenali cowok sepopuler dia.
“Yah, walaupun aku tidak segaul kau, setidaknya aku mengenalmu Dom.” Aku menjawab dengan nada kesal. Dom tertawa di ujung sana lalu kembali berbicara.
“Jumat malam nanti kau ada acara?” Dia bicara dengan suara yang sangat-sangat kalem dan gagah. Seketika hatiku luluh lantak terpesona dan melupakan kejadian beberapa detik yang lalu.
Tentang masalah apa aku mengenal Dom, maksudku.
“Um, yah, well, tidak ada.” Jawabku tergagap, terdengar tolol sekali.
“Mau keluar? Bersamaku?” Dom bertanya penuh harap. Aku terdiam sebentar, pura-pura berfikir lalu menjawab dengan yakin.
“Yeah, tentu. Kenapa tidak.” Dan setelah berbasa-basi beberapa menit akhirnya telepon ditutup.
“Oh Tuhan. Kau harus tampil secantik mungkin anakku.” Tahu-tahu Mom sudah berada dibelakangku, wajahnya tampak berseri-seri. Tuh kan, dia benar-benar menguping.
“Mom…” Rengekku sambil berjalan menuju tangga, meninggalkannya yang masih memasang wajah berseri-seri.
“Aku serius.” Mom menambahkan. Namun tak kuhiraukan dirinya, dan malah pergi ke kamar. Yeah, sudah bisa ditebak apa yang akan kulakukan.
Menelepon Kate, pastinya.
“Haloo, nona Kate disini.” Dia menyahut, berlagak malas.
“Hei, semangatlah sayang. Aku punya kabar bagus!” Aku nyaris berteriak kalau saja tak ingat bahwa aku punya Mom yang hobi menguping itu.
“Oh yeah! Ini dia yang aku tunggu.” Kate terdengar mulai bersemangat, yah, walaupun aku tahu dia lebih bersemangat apabila aku membicarakan merk tas atau pakaian terbaru.
“Dominic Bruce, mengajakku kencan.” Aku berkata lambat-lambat untuk menambahkan efek dramatis dalam kalimatku.
“Oh.” Hanya itu jawabannya. Benar kan, dia lebih tertarik bila aku membicarakan fashion. Atau mungkin dia sedang fokus mengecat kuku-kukunya yang panjang dan lentik itu.
“Helooo Kate, Sharona disini, ganti.” Teringat masa kecil dimana aku dan Kate sering bermain dengan walkie-talkie yang dibelikan ayahnya di luar negeri. Sungguh, walkie-talkie itu benar-benar bermutu tinggi. Bagaimana tidak, harganya saja hampir menyetarai tas-tas bermerk yang sering digunakan para selebritis dunia.
“Tunggu, siapa? Dominic Bruce? Bingo! Berarti telingaku masih waras. Oh ya, aku hampir lupa, aku punya berita terbaru tentang cowok itu. Kau ingin tahu?” Kate terdengar mulai fokus terhadap topik yang sedang aku bicarakan.
“Yeah, tentu saja.”
“Dom matrealistis.” Kate menjawab dengan singkat. Butuh beberapa menit untuk mencerna informasi yang aku dengar ini, bukan berarti aku lambat berfikir atau semacamnya, hanya saja kalimat itu terasa aneh menurutku.
Dom, si cowok tampan yang sangat-sangat tenar dan benar-benar berbadan atletis itu adalah seorang yang matrealistis. Oh, yang benar saja! Ini pasti sebuah kesalahan, PASTI!
“Astaga Kate, jangan ngaco deh. Cowok sesempurna itu? Dia atlet sepakbola sekolah kita, dia punya wajah tampan bak seorang model. Kau lihat saja wajahnya itu. Rambut hitam pekat, hidung mancung yang sedikit besar, badan tinggi tegap, kulit coklat yang terbakar matahari. Dan juga, dia mempunyai otak yang lumayan encer. Oh Kate, darimana kau dapatkan berita konyol itu?” Aku menuntut penjelasan lengkap darinya.
“Sharona, karena itulah sering disebut-sebut manusia tak ada yang sempurna. Aku mendapatkan informasi itu langsung dari mantan-mantannya, dan tidak diragukan lagi kebenarannya.”
Aku menghembuskan nafas keras-keras tanda frustasi. Kate yang mendengarku, cepat-cepat melanjutkan kalimatnya. “Eh tapi mungkin saja dia benar-benar tulus menyukaimu?”
. “Well, Kate, kau tahu, itu tidak menghibur sama sekali.” Aku kembali menghela nafas.
“Um, mungkin sebaiknya kau kencan saja dengan si matrealistis itu dan lihat apa yang akan dia lakukan. Jika ternyata dia benar-benar seperti yang diberitakan, terserah apa yang akan kau lakukan selanjutnya.” Kate melanjutkan kalimatnya dengan bijaksana.
“Well, baiklah nona bijaksana, aku setuju.”
YEAH
“Oh Tuhan, dia tampan sekali!” Batinku.
Yah, aku memang sudah berada di dalam mobil Dominic sekarang. Entah kemana dia akan membawaku, aku tak peduli, yang jelas dia tampan. Sangat tampan.
“Hei, kenapa harus aku?” Aku mencoba memecahkan keheningan dengan melontarkan sebuah pertanyaan padanya. Dom mengernyit, mungkin tak mengerti akan pertanyaanku.
“Kenapa kau harus mengajakku berkencan, maksudku, masih banyak cewek-cewek tenar dan cantik di sekolah kita, tapi kenapa harus aku?” Kali ini aku mengatakan dengan lebih rinci.
“Yeah, aku tertarik padamu.” Dom menjawab sambil menatapku dalam.
Oh, mungkin ini sihir. Dia menatapku, benar-benar menatapku. Padahal sebelumnya tak ada lelaki mana pun yang menatapku dengan tatapan yang seperti itu-lembut dan penuh sayang-kecuali ayahku, tentunya.
“Lantas, apa yang membuatmu tertarik padaku?” Aku melanjutkan pertanyaan setelah berhasil melepaskan diri dari tatapan matanya yang menghanyutkan itu.
“Kau pintar, baik, ramah. Entahlah, pokoknya aku tertarik padamu.” Dia menjawab tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan di depan kami.
Hh, kenapa tak sekalipun seorang cowok menyatakan dirinya tertarik padaku karena aku cantik, atau katakanlah, karena penampilanku.
“Oh.” Hanya itu responku, bukan berarti aku merajuk atau apa, hanya saja kami sudah sampai di tempat tujuan.
Dom dengan segala ketampanannya turun lebih dulu dari mobil dan membukakan pintu untukku. Tanpa lupa mengucapkan terimakasih, aku turun dan berjalan bersamanya memasuki sebuah restoran, yang katakanlah, cukup mewah. Untuk sepersekian detik aku sempat meragukan informasi yang diberikan Kate.
Yah, setidaknya sebelum mimpi buruk ini terjadi.
YEAH
“Astaga, D! Setelah kita memesan dan menghabiskan semua makanan mahal ini, kau baru bilang bahwa kau tidak bawa dompet?!” Aku berkata pelan, namun tetap terdengar sangat histeris.
Ya, beberapa detik yang lalu, Dom berkata bahwa ia tidak sengaja meninggalkan dompetnya di rumah. Sudah jelas sekarang, gelar matrealistis itu patut disandangnya-sangat patut.
“Maafkan aku Sharona, aku benar-benar lupa.” Dom memelas hingga wajahnya terlihat sangat imut dan sempat membuatku merasa kasihan. Namun secepat kilat kuusir perasaan bodoh itu.
“Ya Tuhan, seharusnya aku tau ini bakal terjadi.” Aku mendesah pelan lalu melanjutkan kalimatku. “Well, aku mau pulang. Kau yang mengajakku kencan, kau pulalah yang harus membayar. Dan aku tidak peduli bagaimana caranya kau membayar semua makanan ini, aku juga tidak peduli jika kau harus mencuci piring atau mengamen. Untuk membayar makanan-makanan ini, maksudku.”
Wajah Dominic terlihat sangat syok dan bingung saat ini, terlihat sangat tolol. Dan tentu saja dia sama sekali tidak tampan lagi.
“Dan oh ya, terimakasih atas kencannya yang indah malam ini. Selamat tinggal.” Sembari meninggalkannya, tanganku merogoh-rogoh tas untuk mencari sebuah ponsel-yang tentu saja akan kugunakan untuk menelepon Kate.
5 menit kemudian, Kate datang menjemputku.
“Naiklah sayang.” Kate menyuruhku, wajahnya terlihat bahagia. Sungguh.
“Apa kau bahagia melihatku yang hampir saja menjadi korban si brengsek itu?” Sergahku sambil menaiki mobilnya.
Dia tertawa sejenak dan berkata, “Tapi dia tampan.” Lalu kembali tertawa.
“Cukup sekali aku merasaaa kegagalan cintaa ~.” Aku berdendang pelan dan kemudian diikuti dengan tawa hebohku beserta Kate.
“Oh yeah!” Kate berseru sambil melajukan mobilnya di jalanan malam California.