Sabtu, 21 Januari 2012

Just a Story About Us

Pandangan pertama, tak berarti apa-apa.

Pandangan kedua, juga tak terlekat di benak.

Pandangan ketiga dan seterusnya, tak jauh berbeda.


Perasaan ini bukanlah spesial, bukan tercipta dari pandangan pertama ataupun kesan romantis lainnya. Rasa ini, bukanlah yang pertama kurasakan dan kuyakin bukan juga yang terakhir. Perasaan seperti ini terdengar biasa namun terasa luar biasa. Terasa lembut, kadang menghantam. Terasa indah, kadang suram.


Berkali kupertanyakan, kenapa baru sekarang rasa itu muncul? Setelah 3 bulan kau lalu-lalang di depan wajahku, di depan aku. Namun tak ingin kupertanyakan lagi, karena kutahu itu rencana Tuhan untuk kita berdua.


Lalu kini berbagai isu merangsek ke dalam hubungan kita, hubungan tanpa status yang terasa begitu sempurna. Isu itu menghantam tepat ke aku, ke kamu, kepada kita berdua.


Entah siapa dan apa yang harus aku percaya. Tapi kau meyakinkanku begitu dalamnya, hingga aku mau tak mau kembali jatuh dalam genggamanmu. Resah, namun sungguh ku tak peduli bila akhirnya aku tersakiti. Aku hanya ingin melewatkan masa-masa indah yang sementara ini denganmu.


Bodoh memang, tapi aku tekankan sekali lagi bahwa aku tak peduli.


Setiap hari di barisan paling belakang bangku-bangku kelas, kita duduk berdua. Saling menceritakan kehidupan masing-masing. Menceritakan berbagai hal yang kita senangi. Saling melontarkan lelucon, gombalan dan lainnya.


Hingga kini, kita begitu saling terbuka tentang perasaan masing-masing. Mungkin tak ada satupun perasaan yang kita sembunyikan. Tak satupun kecuali hal itu…


Ah, sudahlah. Bukankah sudah kukatakan aku tak peduli?


Tetapi, orang-orang terus berkata “Bagaimana bila ternyata…”


Namun aku mencoba tutup telinga walau tiap malam pertanyaan itu seperti mengikutiku sampai ke dalam mimpi. Bukan aku tak peduli, aku hanya bimbang.


Akan tetapi, perasaan bimbang itu hilang seketika saat kau genggam erat tangan kiriku dengan kedua tanganmu itu seperti hari ini. Semakin hilang saat kau mulai menatap dalam bola mataku.


Ah, biarkanlah perasaan kita mengalir seperti ini. Kita tak akan pernah tahu ujungnya. Namun aku hanya bisa berharap, bila akhirnya suatu saat perasaan kita harus terpisah jangan ada hati yang terkoyak.

Rabu, 18 Januari 2012

Cuplikan Cerpen "Wanita yang Beruntung"

Cerpen ini aku temuin di halaman paling belakang buku LKS Pkn terbitan CV. Graha Pustaka. Pas pertama kali ngebaca ini rasanya terharu banget. Ini dia kilasannya...

Suasana pagi itu sangat sibuk. Jam menunjukkan pukul 08.30 ketika seorang lelaki tua umur 80-an masuk untuk meminta agar jahitan di ibu jarinya dilepas. Ia berkata bahwa ia sedang terburu-buru karena ada janji pukul 09.00. Aku memahami gelagatnya lalu memintanya untuk duduk. Aku tahu pekerjaan ini akan memakan waktu lebih dari satu jam sebelum orang lain bisa menemuinya.

Sambil merawat lukanya aku terlibat dalam pembicaraan dengannya. Au bertanya apakah pagi ini ia punya janji dengan salah seorang dokter di sini karena ia tampak begitu terburu-buru. Ia menjawab tidak, ia harus pergi ke rumah perawatan (nursing home) untuk sarapan bersama istrinya. Aku lalu bertanya tentang keadaan istrinya. Ia berkata bahwa istrinya menderita Alzheimer dan belum lama dirawat di tempat itu.

Sambil mengobrol, kuselesaikan balutan di ibu jarinya. Aku bertanya apakah istrinya akan merasa khawatir bahwa hari ini ia agak terlambat. Ia menjawab bahwa istrinya sudah lima tahun tidak lagi mengenalinya.

Aku merasa terkejut dan bertanya, "Apakah kau pergi ke sana setiap hari meski istrimu sudah tidak mengenalimu?"

Ia tersenyum, menepuk tanganku lalu berkata, "Benar ia tidak mengenaliku, tapi aku kan mengenalinya!"

Sumber: Hikmah dari Seberang, Unknown Author, Pustaka Zawiyah

Senin, 16 Januari 2012

Saat Kau Jatuh Cinta

cerita ini mungkin tidak begitu penting, namun aku hanya ingin membagi kisahku. kisah cinta remaja yang mungkin banyak disepelekan orang. cinta monyet, begitulah mereka para orang dewasa menamakan cinta kita. Tapi jangan salah, semonyet-monyet apapun cinta kita tetaplah merupakan cinta tulus yang kita salurkan dari palung hati yang terdalam. mungkin bila kau para remaja membaca uraian ini, kalian akan mengangguk-angguk setuju sambil tersenyum dan di pikiran kalian akan muncul seseorang yang spesial. percayalah, saat ini kau pasti sangat mencintai orang itu. seberapa kuatpun kau menyangkalnya, memang begitulah yang terjadi.

saat kau jatuh cinta, kau akan selalu memikirkannya. baik dalam keadaan sedih maupun bahagia. kau berharap bisa menghabiskan waktumu bersama orang tersebut.

saat kau jatuh cinta, kau pasti akan selalu menghayalkan hal-hal indah yang sangat ingin kau lewatkan bersamanya. kau menghayalkannya setiap malam, sebelum tidur.

saat kau jatuh cinta, kau pasti selalu memandanginya dari kejauhan tanpa ia ketahui sambil tersenyum dalam hati. berharap kau bisa memilikinya.

saat kau jatuh cinta, kau berharap orang pertama yang mengucapkan ucapan selamat ulang tahun adalah dirinya. namun hal ini sering kali sangat jauh dari harapan kita.

saat kau jatuh cinta, hatimu pasti akan bergetar tiap kali kau mendengar namanya disebut. walau mungkin, bukan orang tersebut yang dimaksud dan hanya saja memiliki nama yang sama. untuk beberapa saat kau pasti terhanyut dalam pemikiran tentangnya dan kau tidak akan menghiraukan lagi sekitarmu.

saat kau jatuh cinta, kau pasti akan selalu bersemangat sekolah bila ia satu sekolah denganmu. dan bila ia tak datang, kau pasti akan malas-malasan dan seharian memikirkan keadaan dirinya.

saat kau jatuh cinta, kau pasti ingin menjadi orang yang paling mengerti dan mengetahui segala hal tentang dirinya.

saat kau jatuh cinta, ketika handphonemu berdering kau pasti mengharapkan itu dirinya.

saat kau jatuh cinta, kau pasti akan membaca berulang-ulang kali sms dari orang tersebut. terkadang kau akan tersenyum dan menutup wajahmu dengan bantal lalu berteriak saking bahagianya.

saat kau jatuh cinta, kau berharap dirinya ada di sampingmu ketika kau sakit.

saat kau jatuh cinta, kau akan mulai mengikuti hal-hal yang disukainya.

saat kau jatuh cinta, kau akan melakukan apapun asalkan dia terkesan.

saat kau jatuh cinta, banyak lagi hal yang mungkin membuat hidupmu lebih indah dan berwarna.

saat kau jatuh cinta, banyak lagi hal yang bisa membuatmu jadi gila.

saat kau jatuh cinta, ingatlah bahwa tak selamanya kisah cintamu berakhir sesuai harapan. bersiaplah untuk segala kemungkinan yang terjadi dan tetap tersenyum karena kau telah diberi kesempatan untuk merasakan indahnya jatuh cinta.

Selasa, 27 Desember 2011

The Mediator - Meggin Cabot

The mediator adalah novel karya Meggin Cabot yang terdiri dari 6 seri buku. Nah, dari sebanyak itu buku aku cuma punya 1 T.T
Dan itupun udah seri yang ketiga hahaha :D Tapi gak apa-apa, aku bisa minta tolong sama my lovely sister di jakarta sono buat beliin. Kan ceritanya barang-barang di jakarta jauh lebih murah dibandingkan dengan yang ada di tanjungpinang, secara warga tanjungpinang orang kaya semua --"
Oke, back to the topic. Jadi ceritanya Susannah Simon adalah seorang mediator. Tau gak mediator tu apaan? Cari sendiri aja deh di google sono :D
Intinya mediator itu adalah orang bisa berbicara dan melihat orang yang sudah mati alias hantu. Teruss, tugas si mediator ini adalah menggiring sang arwah gentayangan untuk pulang ke tempat yang seharusnya. Bukan malah gentayangan kagak jelas di dunia ini.
Di buku yang aku punya ini, The Mediator: Reunion ceritanya sahabat Susannah dari New York datang untuk berlibur ke tempatnya di California. Namanya Gina Augustin. Terus ceritanya ada kecelakaan maut yang terjadi tak jauh dari pantai tempat mereka berdua biasa bersantai. Sebuah mobil dengan empat penumpang, anak SMA yang baru pulang dari pesta dansa terjun bebas ke tebing Big Sur karena menabrak pagar pembatas. Keempat arwah itu kelihatannya marah dan berencana membunuh Michael, teman sekelas Suze. Ternyata usut punya usut, kecelakaan itu rupanya disengaja oleh Michael. Karena apa? Dan bagaimana cara Suze membereskan semua kekacauan ini? Baca sendiri ya, okay? ;)


Ini dia keenam seri buku The Mediator:






Dan inilah penulisnya:

Terus buku yang aku punya yg ini nih. Berbeda karena ini versi indonesia nya.

Senin, 26 Desember 2011

New cerpeeen

Hai hai haai, aku dateng dengan cerpen baru yang aku yakin 260% lebih bagus daripada cerpen sebelumnya. Tau kenapa? Karena di cerpen ini aku make gaya bahasanya si Meggin Cabot, penulis novel yang karyanya udah bejubel itu. Dan cerpen aku kali ini, terinspirasi dari si cowok keren yg matrek itu loh. Tau kan tau kan? Ha ha :D

Okedeh, gak perlu berlama-lama lagi. Ini dia cerpen baru akuh, check this out ;)






Well, bangun di pagi hari dan langsung mendapatkan berita bagus cukup bisa membuatku bersemangat untuk menjalani hari ini. Bukan berarti aku selalu tidak bersemangat di hari-hari sebelumnya, tetapi, aku hanya butuh sedikit penyegaran yang bisa-yah katakanlah-me-reload dan me-refresh otakku.
            “Oh, Tuhan. Yang benar saja Kate, maksudku, cowok sekeren dia bisa naksir sama cewek nerd-yang suka ngurung diri di kamar dan membuat cerpen-kayak aku?” Sambil terus membersihkan kotoran-kotoran di sudut mata, aku menggenggam erat ponsel di tangan kiriku-syok.
            Yeah, mungkin memang sulit diterima akal. Tapi itulah kenyataan yang aku dengar Ms. Langston. Kau tidak berfikir aku tuli kan?” Sahabat baikku, Kathy Simon bertanya dengan nada sarkastis.
            “Oh tentu tidak sayang…” Jawabku dengan suara dibuat-buat yang membuatnya menirukan suara orang yang sedang muntah. “Hanya saja, kau tahu, rasa-rasanya itu hampir tidak mungkin.” Aku melanjutkan dengan suara pelan, sangat pelan hingga hampir terdengar seperti gumaman.
            Okay, tidak ada gunanya kita terus-terusan berargumen sekarang. Kita harus cari kepastiannya sendiri.” Kate menekankan setiap katanya, kayak sedang bicara dengan orang tolol saja.
            “Bagaimana caranya?” Aku bertanya, jelas-jelas tertarik.
            “Tanya langsung pada orangnya…” Kate menyarankan, tetapi menurutku dia sedang bertanya. Entahlah, suaranya terdengar sedikit ragu dan aku pun tidak mau repot-repot memakai usulan bodoh seperti itu.
            “Kau nggak gila kan? Bagaimana kalau ternyata dia tidak menyukaiku? Mungkin setelah itu aku hanya akan menghabiskan sisa hidup dengan merajut kain dan duduk di atas kursi goyang di teras rumahku!” Setelah mengucapkan kalimat itu, aku langsung terbayang bagaimana rupa wajahku saat sedang merajut dan duduk di kursi goyang, memakai baju nenekku, amit-amit. Sangat amit-amit.
            “Oh aku tidak akan berani membayangkan hal itu!” Katanya pura-pura syok. “Tapi Sharona, aku benar-benar mendengarnya sendiri waktu itu.” Kate ngotot.
            Yeah, aku percaya padamu. Hanya saja, sekali lagi, itu hampir tidak mungkin.” Aku mendengar Kate hanya bergumam setuju di seberang telepon sana. “Well, mungkin kita tunggu saja apa tindakan dari cowok itu. Kalau memang ternyata gelagat-gelagatnya menunjukkan bahwa ia menyukaiku, baru kita akan membahasnya lagi. Deal?”
            Yeah, deal.” Sedetik kemudian terdengar bunyi ‘tuut’ yang panjang-yang berarti sambungan telepon sudah terputus. Tanganku terasa panas karena telah menggenggam benda canggih-yang mempunyai sesuatu yang disebut elektromagnetis atau semacamnya-cukup lama. Cukup lama hingga mampu membuat Mom berteriak kesal karena aku tak juga turun untuk sarapan.
YEAH
            Sudah beberapa hari sejak perdebatan sengit antara aku dan Kate di telepon, namun belum ada sedikit pun tanda-tanda bahwa si cowok atletis, Dominic Bruce, menyukaiku.
            Atau setidaknya begitulah menurutku.
            Aku masih berfikir seperti itu hingga setidaknya 2 menit kemudian Mom memanggilku dari arah dimana telepon rumahku terpajang.
            “Sharon, ada telepon untukmu.” Mom berteriak padaku sangat keras, seakan-akan aku mengalami gangguan pendengaran atau sebangsanya. “Dari seorang cowok.” Bisik Mom ketika aku sudah berada disebelahnya. Aku hanya mengernyit pura-pura bodoh dan meraih telepon berwarna hitam yang masih di pegangnya. Aku sudah akan mulai berbicara tapi Mom masih di hadapanku, ingin tahu.
            “Mom…” Aku berkata dengan lembut namun tegas, mengisyaratkannya untuk segera pergi.
            “Yah, baiklah.” Mom pergi sambil mengangkat kedua tangannya. Namun aku berani bertaruh dia tak benar-benar pergi, melainkan hanya akan berdiri menguping dibalik tembok itu. Setelah menghela nafas dan berdeham, aku berbicara dengan cowok di telepon itu.
            Yeah, Adam. Ada apa?” Aku langsung nyerocos dan merasa yakin bahwa orang yang menelponku adalah Adam McTavish, salah satu sahabatku yang paling baik dan tampan.
            “Adam?” Cowok itu sedikit terkekeh dan melanjutkan kalimatnya. “Ini aku Dominic, Dominic Bruce. Kau kenal?” Dia bertanya padaku. Entahlah, aku merasa pertanyaannya melecehkanku. Karena sepertinya dia bukan bermaksud rendah diri-dengan menganggap dirinya tidak populer sehingga ada beberapa orang yang tidak mengenalnya-, melainkan menganggap bahwa aku tidak gaul sampai-sampai tidak mengenali cowok sepopuler dia.
            “Yah, walaupun aku tidak segaul kau, setidaknya aku mengenalmu Dom.” Aku menjawab dengan nada kesal. Dom tertawa di ujung sana lalu kembali berbicara.
            “Jumat malam nanti kau ada acara?” Dia bicara dengan suara yang sangat-sangat kalem dan gagah. Seketika hatiku luluh lantak terpesona dan melupakan kejadian beberapa detik yang lalu.
            Tentang masalah apa aku mengenal Dom, maksudku.
            “Um, yah, well, tidak ada.” Jawabku tergagap, terdengar tolol sekali.
            “Mau keluar? Bersamaku?” Dom bertanya penuh harap. Aku terdiam sebentar, pura-pura berfikir lalu menjawab dengan yakin.
            Yeah, tentu. Kenapa tidak.” Dan setelah berbasa-basi beberapa menit akhirnya telepon ditutup.
            “Oh Tuhan. Kau harus tampil secantik mungkin anakku.” Tahu-tahu Mom sudah berada dibelakangku, wajahnya tampak berseri-seri. Tuh kan, dia benar-benar menguping.
            “Mom…” Rengekku sambil berjalan menuju tangga, meninggalkannya yang masih memasang wajah berseri-seri.
            “Aku serius.” Mom menambahkan. Namun tak kuhiraukan dirinya, dan malah pergi ke kamar. Yeah, sudah bisa ditebak apa yang akan kulakukan.
            Menelepon Kate, pastinya.
            “Haloo, nona Kate disini.” Dia menyahut, berlagak malas.
            “Hei, semangatlah sayang. Aku punya kabar bagus!” Aku nyaris berteriak kalau saja tak ingat bahwa aku punya Mom yang hobi menguping itu.
            “Oh yeah! Ini dia yang aku tunggu.” Kate terdengar mulai bersemangat, yah, walaupun aku tahu dia lebih bersemangat apabila aku membicarakan merk tas atau pakaian terbaru.
            “Dominic Bruce, mengajakku kencan.” Aku berkata lambat-lambat untuk menambahkan efek dramatis dalam kalimatku.
            “Oh.” Hanya itu jawabannya. Benar kan, dia lebih tertarik bila aku membicarakan fashion. Atau mungkin dia sedang fokus mengecat kuku-kukunya yang panjang dan lentik itu.
            “Helooo Kate, Sharona disini, ganti.” Teringat masa kecil dimana aku dan Kate sering bermain dengan walkie-talkie yang dibelikan ayahnya di luar negeri. Sungguh, walkie-talkie itu benar-benar bermutu tinggi. Bagaimana tidak, harganya saja hampir menyetarai tas-tas bermerk yang sering digunakan para selebritis dunia.
            “Tunggu, siapa? Dominic Bruce? Bingo! Berarti telingaku masih waras. Oh ya, aku hampir lupa, aku punya berita terbaru tentang cowok itu. Kau ingin tahu?” Kate terdengar mulai fokus terhadap topik yang sedang aku bicarakan.
            Yeah, tentu saja.”
            “Dom matrealistis.” Kate menjawab dengan singkat. Butuh beberapa menit untuk mencerna informasi yang aku dengar ini, bukan berarti aku lambat berfikir atau semacamnya, hanya saja kalimat itu terasa aneh menurutku.
            Dom, si cowok tampan yang sangat-sangat tenar dan benar-benar berbadan atletis itu adalah seorang yang matrealistis. Oh, yang benar saja! Ini pasti sebuah kesalahan, PASTI!
            “Astaga Kate, jangan ngaco deh. Cowok sesempurna itu? Dia atlet sepakbola sekolah kita, dia punya wajah tampan bak seorang model. Kau lihat saja wajahnya itu. Rambut hitam pekat, hidung mancung yang sedikit besar, badan tinggi tegap, kulit coklat yang terbakar matahari. Dan juga, dia mempunyai otak yang lumayan encer. Oh Kate, darimana kau dapatkan berita konyol itu?” Aku menuntut penjelasan lengkap darinya.
            “Sharona, karena itulah sering disebut-sebut manusia tak ada yang sempurna. Aku mendapatkan informasi itu langsung dari mantan-mantannya, dan tidak diragukan lagi kebenarannya.”
            Aku menghembuskan nafas keras-keras tanda frustasi. Kate yang mendengarku, cepat-cepat melanjutkan kalimatnya. “Eh tapi mungkin saja dia benar-benar tulus menyukaimu?”
.           Well, Kate, kau tahu, itu tidak menghibur sama sekali.” Aku kembali menghela nafas.
            “Um, mungkin sebaiknya kau kencan saja dengan si matrealistis itu dan lihat apa yang akan dia lakukan. Jika ternyata dia benar-benar seperti yang diberitakan, terserah apa yang akan kau lakukan selanjutnya.” Kate melanjutkan kalimatnya dengan bijaksana.
            Well, baiklah nona bijaksana, aku setuju.”
YEAH
            “Oh Tuhan, dia tampan sekali!” Batinku.
            Yah, aku memang sudah berada di dalam mobil Dominic sekarang. Entah kemana dia akan membawaku, aku tak peduli, yang jelas dia tampan. Sangat tampan.
            “Hei, kenapa harus aku?” Aku mencoba memecahkan keheningan dengan melontarkan sebuah pertanyaan padanya. Dom mengernyit, mungkin tak mengerti akan pertanyaanku.
            “Kenapa kau harus mengajakku berkencan, maksudku, masih banyak cewek-cewek tenar dan cantik di sekolah kita, tapi kenapa harus aku?” Kali ini aku mengatakan dengan lebih rinci.
            Yeah, aku tertarik padamu.” Dom menjawab sambil menatapku dalam.
            Oh, mungkin ini sihir. Dia menatapku, benar-benar menatapku. Padahal sebelumnya tak ada lelaki mana pun yang menatapku dengan tatapan yang seperti itu-lembut dan penuh sayang-kecuali ayahku, tentunya.
            “Lantas, apa yang membuatmu tertarik padaku?” Aku melanjutkan pertanyaan setelah berhasil melepaskan diri dari tatapan matanya yang menghanyutkan itu.
            “Kau pintar, baik, ramah. Entahlah, pokoknya aku tertarik padamu.” Dia menjawab tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan di depan kami.
            Hh, kenapa tak sekalipun seorang cowok menyatakan dirinya tertarik padaku karena aku cantik, atau katakanlah, karena penampilanku.
            “Oh.” Hanya itu responku, bukan berarti aku merajuk atau apa, hanya saja kami sudah sampai di tempat tujuan.
            Dom dengan segala ketampanannya turun lebih dulu dari mobil dan membukakan pintu untukku. Tanpa lupa mengucapkan terimakasih, aku turun dan berjalan bersamanya memasuki sebuah restoran, yang katakanlah, cukup mewah. Untuk sepersekian detik aku sempat meragukan informasi yang diberikan Kate.
            Yah, setidaknya sebelum mimpi buruk ini terjadi.
YEAH
            “Astaga, D! Setelah kita memesan dan menghabiskan semua makanan mahal ini, kau baru bilang bahwa kau tidak bawa dompet?!” Aku berkata pelan, namun tetap terdengar sangat histeris.
            Ya, beberapa detik yang lalu, Dom berkata bahwa ia tidak sengaja meninggalkan dompetnya di rumah. Sudah jelas sekarang, gelar matrealistis itu patut disandangnya-sangat patut.
            “Maafkan aku Sharona, aku benar-benar lupa.” Dom memelas hingga wajahnya terlihat sangat imut dan sempat membuatku merasa kasihan. Namun secepat kilat kuusir perasaan bodoh itu.
            “Ya Tuhan, seharusnya aku tau ini bakal terjadi.” Aku mendesah pelan lalu melanjutkan kalimatku. “Well, aku mau pulang. Kau yang mengajakku kencan, kau pulalah yang harus membayar. Dan aku tidak peduli bagaimana caranya kau membayar semua makanan ini, aku juga tidak peduli jika kau harus mencuci piring atau mengamen. Untuk membayar makanan-makanan ini, maksudku.”
            Wajah Dominic terlihat sangat syok dan bingung saat ini, terlihat sangat tolol. Dan tentu saja dia sama sekali tidak tampan lagi.
            “Dan oh ya, terimakasih atas kencannya yang indah malam ini. Selamat tinggal.” Sembari meninggalkannya, tanganku merogoh-rogoh tas untuk mencari sebuah ponsel-yang tentu saja akan kugunakan untuk menelepon Kate.
            5 menit kemudian, Kate datang menjemputku.
            “Naiklah sayang.” Kate menyuruhku, wajahnya terlihat bahagia. Sungguh.
            “Apa kau bahagia melihatku yang hampir saja menjadi korban si brengsek itu?” Sergahku sambil menaiki mobilnya.
            Dia tertawa sejenak dan berkata, “Tapi dia tampan.” Lalu kembali tertawa.
            “Cukup sekali aku merasaaa kegagalan cintaa ~.” Aku berdendang pelan dan kemudian diikuti dengan tawa hebohku beserta Kate.
            “Oh yeah!” Kate berseru sambil melajukan mobilnya di jalanan malam California.

Sabtu, 24 Desember 2011

I'm here for you

            “Nuga nega naboda deo jal naga… No no no no… Na na na na…” Dengan headphone yang terpasang di kepala, aku berdendang pelan sambil menyusuri jalan pertokoan di kota Seoul.   Hari sudah menunjukkan pukul 07.45 malam dan aku masih berkeliaran di luar rumah sendirian. Setelah cukup lama berkutat dengan buku-buku yang ada di toko tempatku bertandang tadi, akhirnya aku memutuskan untuk pulang ke rumah. Mrs. Yang selalu memasang tampang cemberut ketika aku datang ke tokonya. Hal itu dikarenakan dia tahu bahwa aku tidak akan membeli buku yang ada di tokonya, akan tetapi hanya menumpang untuk membaca buku-buku terbaru yang tidak terbungkus plastik lagi. Namun Mrs. Yang tak pernah mencoba untuk mengusirku karena dia menerapkan prinsip “Pembeli adalah Raja”. Ya, walaupun aku tidak membeli apa-apa disitu.
            “Brraakkk!!” Suara benturan yang sangat keras membuatku tersentak.
            Walaupun aku sedang mengenakan headphone tetapi suara itu masih terdengar cukup keras di telingaku.  Spontan aku melepaskan headphone cantik berwarna ungu ini dan mencoba mencari tahu-dengan sedikit takut-darimana asal suara tersebut. Sepertinya asal suara tersebut berasal dari gang sempit yang ada di sebelah toko kosong yang ada di pojok sana. Perlahan tapi pasti aku berjalan ke tempat itu. Sedikit gelap, membuat bulu kudukku meremang. Mendadak ada tiga orang berbaju hitam yang keluar dari lorong sempit itu dengan wajah puas. Aku semakin penasaran dengan apa yang dilakukan orang-orang itu. Setelah mereka berjalan cukup jauh, aku langsung berlari menuju tempat tujuanku semula. Dan disana terlihat seorang laki-laki yang tengah terkapar. Aku tidak bisa mengenali wajahnya karena tempat itu sangat gelap.
            “Hei! Kau baik-baik saja?” Aku bertanya pelan sambil terus mendekati pria itu. Aku mulai panik melihat orang itu yang tidak bergerak sama sekali. Lalu aku pun menendang pelan kakinya untuk memeriksa apakah orang tersebut merespon atau tidak. Dan syukurlah ternyata dia merespon dan langsung mencekal kaki kananku ini. Walau habis dipukuli ternyata tenaganya masih cukup kuat.
            “Hei! Lepaskan kakiku.” Aku berontak sambil menarik kakiku yang masih di genggamnya.
            “Brukk!” Aku terjatuh menimpa pria itu karena tidak bisa menjaga keseimbangan tubuh dengan satu kaki.
            “Aish, apa yang kau lakukan? Sakit tahu.” Pria itu mengomel kepadaku.
            “Siapa suruh kau memegang kakiku?!” Aku tidak ingin kalah dari pria ini.
            “Siapa suruh kau menendangku seperti itu? Kau pikir aku sudah mati apa?!”
            “Iya!” Aku menjawab dengan lantang.
            “Huh. Ya sudah cepat tolong aku.” Dia pun mencoba sekuat tenaga untuk bangun. Dan akhirnya aku bisa melihat wajahnya dengan cukup jelas dan dekat.
            “Dongwoon?”
♫♫♫♫♫♫
            “Jadi, kau bisa menceritakan apa yang terjadi tadi?” Aku melontarkan pertanyaan sambil terus konsentrasi mengusap luka-luka yang ada di wajahnya dengan kapas. Dongwoon sekarang memang tengah berada dirumahku karena dia memaksaku untuk mengobati semua luka-lukanya itu. Aku berani membawanya kerumah karena aku hanya tinggal dengan eonniku saja dan kebetulan dia sedang dinas keluar kota selama beberapa hari.
            “Bukan urusanmu.” Dongwoon menyahut santai setelah cukup lama terdiam. Aku tersentuh sekali mendengar jawabannya dan langsung menyentakkan kapas yang kupegang dengan geram ke wajahnya.
            “Obati saja sendiri lukamu itu berandal!!” Dengan geram aku beranjak pergi dari hadapannya. Tiba-tiba Dongwoon menahan dan menarik tanganku hingga aku terduduk kembali.
            “Apa?!” Tanyaku geram.
            “Maaf. Aku harap kau tidak menceritakan hal ini pada siapa pun. Terimakasih, aku permisi.” Pria itu berkata dengan lirih lalu keluar dari rumahku dan berjalan pulang ke rumahnya yang entah ada dimana. Aku hanya tertegun. Sedikit iba melihat Dongwoon. Namun segera cepat-cepat kutepis perasaan konyol itu.
            Dongwoon memang bukan teman dekatku di sekolah, namun ketampanannya itu membuatnya menjadi anak tenar dan pernah membuatku sedikit terpesona saat dia menunjukkan keligatannya dalam bermain basket. Namun hanya sampai disitu. Aku tak menyangka akan melihat wajah tampannya itu babak belur seperti ini. Entah dia akan datang ke sekolah atau tidak besok.
♫♫♫♫♫♫
            Dari kejauhan aku melihat Dongwoon dikerubungi beberapa orang teman laki-laki dan lebih banyak fans-fans perempuannya yang merasa khawatir melihat kondisi Dongwoon. Sebuah tepukan yang mendarat pelan di bahu kiriku membuatku menoleh dan mengabaikan hal yang sedang aku perhatikan tadi.
            “Yoseob..” Aku berkata pelan setelah mengetahui siapa yang menepuk bahuku. Dia tak menjawab, malah mengikuti arah pandanganku tadi dan mengerutkan keningnya.
            “Dongwoon? Sejak kapan kau tertarik padanya?” Yoseob tampak sangat penasaran. Dengan sedikit gugup aku menjawab pertanyaan dari pria yang sudah beberapa waktu ini mengisi hatiku.
            “Ti..tidak. Aku hanya penasaran mengapa begitu banyak perempuan yang peduli terhadap Dongwoon.” Aku berkata sambil kembali menatap kerumunan yang semakin ramai itu.
            “Entahlah. Kau ingin bergabung dengan mereka?” Yoseob mengangkat sebelah alisnya dengan tatapan jahil. Aku hanya tertawa dan meninju bahunya pelan. Pria manis ini mengangkat topik pembicaraan lainnya dan kami mengobrol dengan santai di depan ruang kelas. Beberapa kali aku tertawa mendengar lelucon konyol yang dia berikan dan beberapa kali pula aku cemberut melihat tingkahnya yang menyebalkan.
            “Park Bom, bisa kita bicara sebentar?” Seorang pria yang tidak lain dan tidak bukan adalah Dongwoon tiba-tiba berada di depan kami, menyela pembicaraan. Aku sedikit terkejut dengan kehadirannya, begitu pula dengan Yoseob. Bahkan dia tampak lebih terkejut daripada diriku.
            “Err, mungkin sebaiknya aku pergi.” Yoseob pamit undur diri dari hadapan kami dengan wajah sedikit aneh dan tinggalah aku dengan Dongwoon berdiri berhadapan dalam diam. Untuk beberapa saat tidak ada yang berbicara dan akhirnya Dongwoon yang memecah keheningan lebih dulu.
            “Diaa…kekasihmu?” Tanya pria itu dengan kikuk. Aku hanya mengangguk.
            “Sepulang sekolah nanti bisa kita bicara berdua? Berdua saja. Kau dan aku? Bisa?” Dia menjelaskan dengan tampang aneh seperti sedang berbicara dengan orang bodoh. Aku yang merasa tersindir hanya menjawab.
            “Dimana?”
            “Aku jemput kau disini. Jangan kemana-mana.” Dia menekankan kalimat terkahirnya. Dan untuk kedua kalinya aku merasa tersindir.
            “Aku tidak bodoh, okay?” Aku pun berlalu dari hadapan Dongwoon dan meninggalkan pria itu termangu bingung.
♫♫♫♫♫♫
            Kerikil-kerikil kecil yang berada di sekitarku menjadi sasaran kekesalan yang sudah aku pendam selama setengah jam.
            “Kemana si bodoh itu?!” Umpatku dalam hati. Namun baru saja aku berniat meninggalkan tempat itu, pria yang aku tunggu datang. Dengan wajah kesal aku menatapnya dan meminta penjelasan.
            “Maaf, aku ada sedikit urusan dengan kepala sekolah.” Aku memutar bola mata dengan malas mendengar penjelasannya.
            “Aku tak peduli. Apa maumu?”
            “Aku hanya ingin mengucapkan terimakasih atas pertolonganmu kemarin. Mau kutraktir makan?” Dongwoon mencoba membujuk.
            “Sebaiknya makanan yang kau belikan enak karena aku hampir mati kelaparan menunggumu.” Aku berjalan mendahuluinya, dan tanpa Dongwoon sadari aku tersenyum tanpa alasan yang pasti.
            “Apa kau tidak letih berjalan kaki? Tempatnya cukup jauh dari sini.” Kini Dongwoon sudah menyamakan langkahnya denganku.
            “Memangnya kita akan naik apa?” Aku mengerutkan keningku. Dongwoon menggerakkan telunjuknya ke sebuah arah. Dan terlihatlah sebuah sepeda terparkir dengan rapi. Aku hanya tertawa pelan tanda setuju.
♫♫♫♫♫♫
            Melihat semua ini. Ranting-ranting pohon yang telah botak, daun-daun kecoklatan yang beserakan di tanah jalan setapak, serta sinar matahari yang menerobos celah pepohonan dan menerpa lembut sepasang umat manusia yang tengah mengendarai sepeda dengan pelan. Aku hanya tersenyum malu dibelakang Dongwoon yang sibuk mengayuh sepeda tua ini. Beberapa menit lalu aku masih berceloteh kesal karena kelalaian Dongwoon yang terlambat menemuiku. Namun, sekarang aku malah dibuat berdebar oleh sikap romantisnya ini. Entahlah, menurutku apa yang sedang kami lakukan sekarang seperti sepasang kekasih dalam dongeng-dongeng tua yang romantis dan selalu berakhir bahagia.
            “Bom..” Dongwoon menoleh sekilas, mungkin memastikan apakah aku masih ada atau tidak.
            “Ya?” Aku menyahut pelan.
            “Kau dan pria itu…sudah berapa lama kalian bersama?” Pria itu akhirnya melontarkan pertanyaan setelah cukup lama terdiam.
            “Entahlah…2 bulan mungkin. Tapi walaupun dia selalu ada bersamaku, aku merasa hatinya bukan sepenuhnya milikku.” Tanpa sadar aku malah mencurahkan sedikit isi hatiku.
            “Mungkin dia bukan yang tepat…” Dongwoon bergumam, namun cukup keras hingga telingaku masih mampu menangkap getaran suaranya.
            “Maksudmu?” Aku bertanya dengan sedikit emosi sampai-sampai membuat sepeda Dongwoon oleng. Walaupun tidak jarang Yoseob membuatku sedih dan marah, namun semua itu membuatku semakin sayang padanya. Apakah suatu saat kami harus berpisah? Aku tak bisa membayangkan hal itu.
            “Entahlah, suatu saat kau juga akan tahu sendiri. Dan bisakah kau duduk dengan diam?” Ada sedikit nada kesal dalam kalimat yang diucapkan Dongwoon. Aku tak menjawab, malah merenungkan kalimat Dongwoon tadi.
            “Mungkin dia bukan yang tepat…” Aku mengulang kalimat itu dalam hati.
♫♫♫♫♫♫
            Kami akhirnya tiba di tempat tujuan, sebuah café kecil sederhana yang terletak di tepi hutan. Aku berdiri menatap café itu sambil menunggu Dongwoon memarkir sepedanya di sebuah pohon yang agak jauh dari café tersebut.
            “Hei, ayo kita masuk.” Dongwoon menyenggol bahuku pelan dengan ceria. Aku tak merespon. Pemandangan ini terlalu menyakitkan. Yoseob dan Dara-adik kelasku-sedang bergandengan tangan sambil menuju mobil yang terparkir tak jauh dari mereka. Dongwoon yang menyadari apa yang tengah terjadi cepat-cepat menarik dan membenamkanku dalam dekapannya.
            “Sudah kubilang, dia bukan yang tepat.” Dongwoon berkata lirih, masih mendekapku.
            “Ya, kau benar.” Suaraku sedikit serak menahan tangis.
            “Jangan buang air matamu untuk laki-laki seperti dia. Karena kau beruntung, Bom. Kau sudah menemukan pengganti yang tepat disaat yang tepat pula.”
            Tetesan pertama air mataku mengalir. Bukan untuk pria yang disana, namun pria yang ada di hadapanku. Hutan, pohon, sinar lembut matahari, sepeda tua dan musim gugur yang indah ini menjadi saksi awal kisah cinta kami yang aku yakin akan berakhir dengan indah pula.